Senin, 17 Desember 2018

Overthinking? Hati-hati pada Stres yang Berujung pada Depresi


Hai teman-teman
Apa kabar semuanya? Baik dong pasti ya? Semoga semua dalam keadaan sehat, dan jika ada yang lagi sakit saat membaca tulisan saya ini, semoga cepat sembuh yaaaa! :)
Sebelumnya, perkenalkan, saya Arief Rahman. Panggil saja saya Arif. Saat ini saya masih berstatus menjadi mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang dengan skripsi tercinta, hehehe doakan cepat selesai guyss..


Btw ini posting pertama saya ada Blog ini, semoga bermanfaat yaa:)

Nahh teman-teman disini siapa sih yang menganggap dirinya menjadi orang yang overthinker? Banyak pasti dong? Yang setiap saat selalu memikirkan sesuatu hal sekecil apapun, dan kadang-kadang membuat mood berubah menjadi buruk seketika. Tapi orang-orang yang overthinker tidak bisa dikaitkan dengan introvert tau extrovert ya...

Saya termasuk orang overthinker, saya selalu memikirkan hal sekecil apapun, yang akhirnya mengganggu mood. Apalagi kalau sudah malam, sudah terbaring di kasur, wahh saat-saat seperti ini lah yang menjadi momen tepat bagi otak saya untuk berfikir tentang apapun itu. Pernah sih saya berusaha keras menjadi orang yang "bodo amat", menjadi orang yang tidak perdulian, tapi ternyata saya gagal. Otak saya selalu memaksa saya untuk selalu berfikir keras tentang sesuatu hal, melihat masalah sampai sedetail detailnya, yang membuat kadang saya menjadi orang yang pendiam karena berfikir tentang banyak hal. Saya sering berfikir, overthinking ruins me, it just makes everything worse than it actually is, tapi tetap saja, saya tetap menjadi orang yang overthinker.

Apakah teman-teman mengalami hal yang sama dengan saya?
Mulai sekarang, berhati-hati lah guys, mulai kurang-kurangin tu overthinking yang terlalu berlebihan, Karena akan merusak anda, akan membuat anda stres, membuat semua pekerjaan anda terbengkalai, dan stres yang berkepanjangan akan berujung pada depresi. Menurut Lumongga (2009), depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat yang berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Serem kan guys? nah mari kita bahas mengenai stres, manatau bisa menjadi informasi yang berguna bagi kalian-kalian yang ingin tau apasih itu stres? tahapan-tahapannya bagaimana sih sehingga kita bisa menjadi stres?


STRES
Menurut Handoko (1997), stres adalah suatu kondisi dimana ketegangan yang telah mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan sekitarnya. Dalam peristiwa stress sekurang-kurangnya ada tiga hal yang saling terkait, yaitu hal, peristiwa, orang dan keadaan yang menjadi sumber stress (stressor), orang yang mengalami stres itu sendiri (the stressed), dan hubungan antara orang yang mengalami stress dengan hal yang menjadi penyebab stres (transaction)beserta segala yang tersangkut olehnya.


TAHAPAN STRES
Selye (dalam Sarafino, 1994) mempelajari akibat yang diperoleh bila stresor terus menerus muncul. Ia kemudian mengemukakan istilah General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri dari rangkaian tahapan reaksi fisiologis terhadap stresor:
Alarm Reaction
Tahapan pertama ini mirip dengan fight-or-flight response. Pada tahap ini arousal yang terjadi pada tubuh organisme berada di bawah normal yang untuk selanjutnya meningkat diatas normal. Pada akhir tahapan ini, tubuh melindungi organisme terhadap stresor. Tapi tubuh tidak dapat mempertahankan intesitas arousal dari alarm reaction dalam waktu yang sangat lama.
Stage of Resistance

Arousal masih tinggi, tubuh masih terus bertahan untuk melawan dan beradaptasi dengan stresor. Respon fisiologis menurun, tetapi masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal.
Stage of Exshaustion

Respon fisiologis masih terus berlangsung. Hal ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menguras energi tubuh. Sehingga terjadi kelelahan pada tubuh. Stresor yang terus terjadi akan mengakibatkan penyakit dan kerusakan fisiologis dan dapat menyebabkan kematian.


SUMBER TIMBULNYA STRES
Ada beberapa jenis-jenis sumber timbulnya stres menurut Rice (1992) yaitu:
Tekanan (pressures)
Tekanan terjadi karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah laku tertentu. Secara umum tekanan mendorong individu untuk meningkatkan performa, mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah laku. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan dapat berasal dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya. Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu atau peran yang harus dijalani seseorang, atau juga dapat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan hidup.
Frustasi

Frustrasi dapat terjadi apabila usaha individu untuk mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Frustrasi juga dapat diartikan sebagai efek psikologis terhadap situasi yang mengancam, seperti misalnya timbul reaksi marah, penolakan maupun depresi.
Konflik

Konflik terjadi ketika individu berada dalam tekanan dan merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga munculnya dua kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ada 3 jenis konflik yaitu :
Approach-approach conflict, terjadi apabila individu harus memilih satu diantara dua alternatif yang sama-sama disukai, misalnya saja seseorang yang sulit menentukan keputusan diantara dua pilihan karir yang sama-sama diinginkan. Stres muncul akibat hilangnya kesempatan untuk menikmati alternatif yang tidak diambil. Jenis konflik ini biasanya sangat mudah dan cepat diselesaikan.

Avoidance-avoidance conflict, terjadi bila individu diharapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak disenangi, misalnya wanita muda yang hamil diluar nikah, di satu sisi ia tidak ingin aborsi tapi disisi lain ia belum mampu secara mental dan finansial untuk membesarkan anaknya nanti. Konflik jenis ini lebih sulit diputuskan dan memerlukan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menyelesaikannya karena masing-masing alternatif memiliki konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Approach-avoidance conflict, adalah situasi di mana individu merasa tertarik sekaligus tidak menyukai atau ingin menghindar dari seseorang atau suatu objek yang sama, misalnya seseorang yang berniat berhenti merokok, karena khawatir merusak kesehatannya tetapi ia tidak dapat membayangkan sisa hidupnya kelak tanpa rokok.Nahh teman-teman sudah tau kan segala informasi tentan stres? ternyata sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja kan? Mulai sekarang, teman-teman harus mulai mencoba untuk mengontrol diri, jangan terlalu terbawa akan fikiran. Jalani saja, jangan lupa selalu berdoa, dan lakukan yang terbaik. Tidak salah kok mengambil waktu sejenak di harı libur untuk liburan ke pantai atar ke gunung-gunung, sesuai dari teman-teman inginkan untuk menyegarkan kepenatan pikiran yang selama ini menyelimuti hehehe.. 


DAFTAR PUSTAKA
Handoko, T. H. (1997). Manajemen dan Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Liberty.
Lumongga, N. (2009). Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Prenada Media Group.
Sarafino, E. P. (1994). Health Psychology. 2nd ed. New York : John Wiley and Sons.
Rice, Philip L. (1992). Stress & Health. 2nd ed. California: Brooks/Cole Publishing Company.

19 komentar:

Amalia Rizki Sitorus mengatakan...

Wihh ternyata ga boleh overthinking yaaa. Kerennn nihh

Gursweet Kaur mengatakan...

Hmm saya orang yang overthinking juga, udh bisa di kurangin berarti overthinking saya biar ga stress. Makasih info nyaa 👍

Bahrian mengatakan...

Wah artikelnya cukup membantu saya yang sedang mengidap overthinking����
Btw karena aaya overthinker, skripsi anda sudah sampai mana? Maaf saya kepoan������

Regina Rulanita Permadi mengatakan...

Wah bagus sekali artikelnyaa😊

sekedar catatan mengatakan...

Artikelnya sangat informatif, lanjutkan bung!

Devilia Margaretha mengatakan...

menarik, sumber nya juga terpercaya

Wira Andhika mengatakan...

Wah artikel yang sangat penuh dengan wawasan

DesitaKh mengatakan...

Artikel ini sangat membantu saya,
Terima kasih sudah membagikan ilmu pengetahuan kamu 👍👍

Unknown mengatakan...

Berarti kita tidak boleh overthinking ya, terimakasih informasi yang sangat bagus ini, ditambah ada refrensi juga, mantoeell

Unknown mengatakan...

Wah sangat informatif^^

Unknown mengatakan...

Thx gan sangat bermanfaat

Unknown mengatakan...

Iya gan benar sekali

Denise mengatakan...

Bermanfaat!!

M. Arif Yuranda mengatakan...

Luar biasa

Fara Dila mengatakan...

Ini nih yang sering terjadi sama saya. Mungkin memang sebaiknya saya jangan memaksakan diri ya.
Makasih banyak min atas informasinyaaa

Unknown mengatakan...

Bagus bnget isinya. Bermanfaat sekali

Inten Rizki Putri mengatakan...

Wahh sangat menambah wawasan👍👍

Syafrida Pamela Insani Hasibuan mengatakan...

Wah. Terimakasih. Artikelnya sangat informatif. Cocok untuk saya yang juga overthinker👍

Difna Aisyah Karim mengatakan...

makasi yaa akhir-akhir ini memang saya sering stres sih;' sangat bermanfaat untuk saya

Posting Komentar